Perkembangan
Intelligence pada
Orang
Dengan Gangguan Pendengaran
Latar Belakang
Tema ini merupakan sebuah tema yang unik
dan juga susah, tema ini diambil karena masih banyak orang yang menganggap
bahwa anak dengan gangguan pendengaran tidak memiliki perkembangan yang baik,
sebenarnya tidak, mereka berkembang sama seperti orang normal, hanya saja
banyak yang tidak tahu cara untuk melakukan itu.
Perkembangan
Perkembangan
dibagi menjadi dua tahapan, perkembangan fisik dan perkembangan kognitif.
Perkembangan fisik adalah perubahan – perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensorik dan
keterampilan motoric (Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud disini adalah
perkembangan fisik merupakan perkembangan yang dapat dilihat melalui kasat
mata.
Perkembangan
kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar,
berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001). Piaget memberi
tahu bahwa perkembangan kognitif adalah sebuah perkembangan yang dilihat dari
tingkah laku seseorang semasa kecil hingga dewasa.
Intelligence
King
(2014), mengatakan “Intelligence is all-purpose ability to do well, on
cognitive tasks, to solve problems, and to learn from experience”. Yang
dimaksud King disini, intelligence
merupakan kemampuan untuk melakukan kerja kognitif, menyelesaikan masalah dan
belajar dari masa lalu, berarti intelligence
adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah.
Tunarungu
Secara bahasa, tunarungu terdiri dari dua
kata yaitu tuna yang berarti tidak (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008) dan
rungu yang berarti pendengaran (KBBI, 2008). Dari dua arti diatas, bisa diambil
kesimpulan bahwa tunarungu berarti tidak mempunyai pendengaran, atau kurang
pendengaran. Orang-orang seperti ini memang banyak ditemui sehari-hari, dan masih
banyak dianggap remeh oleh beberapa orang di masyarakat. Sebenarnya, mereka
memiliki banyak hal yang sama dengan orang sekitar yang normal, dan tidak
sepantasnya orang normal merendahkan mereka.
Definisi
lain tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pada organ
pendengarannya
sehingga mengakibatkan ketidakmampuan mendengar, mulai dari tingkatan yang
ringan sampai yang berat sekali yang diklasifikasikan kedalam tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing) (Hallahan &
Kauffman (1991:266). Disini sama dengan penuturan diatas, yaitu seorang anak
yang mengalami gangguan pendengaran.
Perkembangan Intelligence Pada
Orang Tunarungu
Seperti yang
diketahui, orang tunarungu memiliki masalah pada segi pendengaran dan bahasa. Akibat
dari gangguan pendengaran meliputi ketidakmampuan menginterpretasikan
percakapan, sering menyebabkan penurunan kemampuan berkomunikasi, keterlambatan
kemahiran berbahasa, kerugian ekonomi dan pendidikan, isolasi sosial dan
kecacatan (Irma, 2010). Berarti anak tunarungu akan memakai waktu yang sangat
lama untuk meningkatkan inteligensi mereka, ini dapat memengaruhi cara mereka
bersosialisasi dalam keluarga, teman, atau dalam hal-hal lain.
Sedangkan
orang yang kurang dengar adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat
bantu mendengar, sisa pendengarannya cukup memungkinkan keberhasilan proses
informasi bahasa melalui pendengarannya.
Pada
umumnya anak tunarungu memiliki inteligensi normal atau rata-rata, akan
tetapi
karena perkembangan inteligensi sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa,
maka anak tunarungu akan menampakkan inteligensi yang rendah disebabkan oleh
kesulitan memahami bahasa (Irma, 2010). Berarti, orang yang pendengarannya
tidak berkurang secara signifikan sehingga dapat menggunakan alat bantu dengar,
dapat mengikuti pelajaran. Namun, ini masih menimbulkan masalah dalam proses
menyimpulkan pelajaran yang diterima.
Kesimpulan
Orang
tuna rungu memang memiliki gangguan dalam belajar, seperti bagaimana mereka
menginterpretasikan apa yang didapat, proses dalam mempelajari bahasa,
berbicara. Tetapi ini tidak berarti mereka tidak dapat bersaing layaknya orang
normal. Bahkan banyak tuna rungu yang menuai prestasi gemilang, yang orang
normal belum tentu dapat mencapai.
Daftar Pustaka
Darsuno, K.
(n.d). Aspek-aspek perkembangan. Jurnal
pendidikan luar sekolah, (h.1-2). diunduh dari http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/194412051967101-KOKO_DARKUSNO_A/ASPEK-ASPEK_PERKEMBANGAN.pdf
Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI). (2008). diunduh dari http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=rungu&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=kamus
Hernawati, T.
(2007). Pengembangan kemampuan berbahasa dan berbicara anak tunarungu. Jassi anakku, 1(7) (h.101). diunduh dari
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196302081987032-TATI_HERNAWATI/jurnal.pdf
King, L. A.,
(2014). The science of psychology: An
aprriciative view. New York, NY: Mc Graw-Hill Education.
Irmawati, D,
(2010). Hubungan gangguan pendengaran
siswa dengan prestasi belajar. Universitas Diponegoro, Semarang. skripsi
sarjana pada FK UnDip: tidak diterbitkan.
diunduh dari http://eprints.undip.ac.id/23312/1/Dwi_Irma.pdf